Profil dan Karier Thomas Frank: Pelatih Baru Tottenham Hotspur yang Sedang Trending
Pria asal Denmark berusia 51 tahun ini resmi diperkenalkan sebagai pengganti Ange Postecoglou pada Juni 2025, sebuah langkah yang menarik perhatian banyak penggemar dan pengamat sepak bola.
Dengan pengalaman panjang di sepak bola Inggris dan rekam jejak impresif bersama Brentford, Frank diharapkan membawa Spurs kembali ke papan atas Liga Primer Inggris. Artikel ini akan mengulas secara mendalam profil dan perjalanan karier Thomas Frank yang kini sedang menjadi sorotan.
Latar Belakang dan Awal Karier
Thomas Frank lahir pada 9 Oktober 1973 di Frederiksværk, Denmark. Ia bukanlah nama asing di dunia kepelatihan, meskipun perjalanannya menuju puncak sepak bola Inggris terbilang tidak biasa. Sebelum menjadi pelatih profesional, Frank meraih gelar sarjana dalam Pendidikan Jasmani dari Copenhagen Institute of Sports Medicine pada 1999.
Ia juga mempelajari psikologi olahraga dan kepemimpinan berbasis pelatihan antara 2002 dan 2005 di institusi yang sama. Selain itu, Frank memiliki pengalaman unik bekerja di taman kanak-kanak dan mengajar di Ishøj Business College pada 2004, yang menunjukkan pendekatannya yang tidak konvensional dalam membangun karier.
Karier kepelatihannya dimulai pada 2008, ketika ia menangani tim kelompok umur Timnas Denmark, termasuk tim U-16, U-17, dan U-19. Selama periode ini, Frank menunjukkan bakatnya dalam mengembangkan pemain muda. Salah satu pencapaiannya adalah membawa Timnas Denmark U-17 ke semifinal Kejuaraan Eropa 2011, di mana ia melatih pemain seperti Pierre-Emile Højbjerg, yang kini menjadi bagian dari skuad Tottenham Hotspur.
Pada 2013, Frank melangkah ke level senior dengan menjadi pelatih kepala Brøndby IF, klub ternama di Denmark. Selama tiga tahun di Brøndby (2013-2016), ia menangani 103 pertandingan dengan catatan 46 kemenangan, 29 hasil imbang, dan 28 kekalahan.
Meskipun tidak meraih trofi besar, kepemimpinannya di Brøndby menunjukkan kemampuan untuk membangun tim yang kompetitif, yang menjadi fondasi bagi langkah besar berikutnya dalam kariernya.
Kebangkitan Bersama Brentford
Pada Desember 2016, Frank bergabung dengan Brentford, klub divisi Championship Inggris, sebagai asisten pelatih di bawah Dean Smith. Setelah Smith pindah ke Aston Villa pada Oktober 2018, Frank dipercaya menjadi pelatih kepala.
Keputusannya untuk tetap bersama Brentford, meskipun awalnya hanya sebagai asisten, terbukti menjadi langkah cerdas.
Dalam waktu singkat, ia mengubah Brentford dari tim papan tengah Championship menjadi kekuatan yang disegani.
Puncak prestasi Frank bersama Brentford adalah membawa klub promosi ke Liga Primer Inggris pada musim 2020/2021 setelah mengalahkan Swansea City di final playoff. Ini menandai kembalinya Brentford ke kasta tertinggi sepak bola Inggris setelah absen selama beberapa dekade. Di bawah asuhannya, Brentford tampil konsisten di Liga Primer, dengan finis di posisi ke-13 (2021/2022), ke-9 (2022/2023), ke-16 (2023/2024), dan ke-10 (2024/2025). Pencapaian ini luar biasa mengingat anggaran transfer Brentford yang terbatas dibandingkan klub-klub besar lainnya.
Frank dikenal karena pendekatan taktisnya yang pragmatis namun fleksibel, dengan fokus pada sepak bola ofensif. Saat masih di Championship, Brentford di bawah Frank menjadi tim dengan jumlah gol terbanyak selama dua musim penuh, dengan rata-rata penguasaan bola mencapai 56,15 persen.
Meskipun penguasaan bola menurun di Liga Primer (47,82 persen pada musim 2024/2025), Brentford tetap produktif dengan rata-rata 57 gol per musim, bahkan mencatatkan 66 gol pada musim 2024/2025, menjadikan mereka tim dengan jumlah gol terbanyak kelima di liga.
Selain taktik, Frank juga terkenal karena kemampuannya mengembangkan bakat pemain. Pemain seperti Ivan Toney, Bryan Mbeumo, Yoane Wissa, Ollie Watkins, dan David Raya berkembang menjadi bintang di bawah asuhannya.
Keberhasilannya membangun tim yang terorganisasi dan kompetitif dengan sumber daya terbatas membuatnya mendapat pujian luas, termasuk dari bos Tottenham, Daniel Levy, yang menyebut Frank sebagai pelatih dengan “kemampuan luar biasa dalam membangun tim yang beridentitas kuat.”
Langkah Menuju Tottenham Hotspur
Pada Juni 2025, Tottenham Hotspur secara resmi mengumumkan penunjukan Thomas Frank sebagai pelatih kepala baru, menggantikan Ange Postecoglou yang dipecat secara kontroversial. Postecoglou, meskipun berhasil membawa Spurs menjuarai Liga Europa 2024/2025, tidak mampu mengangkat performa tim di Liga Primer, dengan Tottenham hanya finis di peringkat ke-17 pada musim sebelumnya.
Keputusan untuk memecat Postecoglou hanya 16 hari setelah meraih trofi Liga Europa memicu banyak diskusi, namun manajemen Spurs tampaknya menginginkan perubahan besar untuk mengembalikan klub ke papan atas.
Penunjukan Frank tidak terjadi begitu saja. Tottenham harus membayar klausul pelepasan sebesar £10 juta (sekitar Rp 220,6 miliar) kepada Brentford, yang masih mengikat Frank hingga 2027. Kontrak Frank dengan Spurs berlaku hingga Juni 2028, menunjukkan kepercayaan klub terhadap visi jangka panjangnya.
Bersama Frank, beberapa staf pelatih dari Brentford seperti Justin Cochrane, Chris Haslam, dan Joe Newton juga bergabung, ditambah Andreas Georgson dari Manchester United sebagai asisten pelatih.
Debut dan Performa Awal di Tottenham
Frank memulai debutnya sebagai pelatih Tottenham di ajang UEFA Super Cup 2025 melawan Paris Saint-Germain pada 13 Agustus 2025. Meskipun Spurs kalah 4-3 melalui adu penalti setelah bermain imbang 2-2, penampilan tim menunjukkan potensi.
Spurs sempat unggul 2-0 melalui gol Micky van de Ven dan Cristian Romero, sebelum PSG menyamakan kedudukan di menit-menit akhir. Frank menggunakan analogi medis untuk menggambarkan kekalahan tersebut, menyebutnya seperti “pasien yang berhasil dioperasi tapi meninggal,” mencerminkan kekecewaannya namun juga optimismenya terhadap masa depan.
Kemenangan perdana Frank di Liga Primer datang pada pekan pertama musim 2025/2026, ketika Tottenham mengalahkan Burnley 3-0. Penyerang Brasil, Richarlison, tampil gemilang dengan mencetak dua gol, termasuk sebuah sepakan salto spektakuler, sementara gol ketiga dicetak oleh Brennan Johnson. Frank memuji mentalitas dan kerja keras timnya, menekankan pentingnya umpan silang yang menjadi salah satu fokus latihannya. Kemenangan ini menjadi awal yang menjanjikan bagi era baru Spurs di bawah Frank.
Frank juga menunjukkan kepercayaan besar pada pemain seperti Richarlison, Mohammed Kudus, Wilson Odobert, Dominic Solanke, dan Brennan Johnson, yang ia sebut memiliki “variasi di lini depan.” Meski demikian, ia belum memberikan jaminan masa depan untuk kapten tim, Son Heung-min, yang menimbulkan spekulasi di kalangan penggemar.
Gaya Kepelatihan dan Harapan ke Depan
Thomas Frank dikenal karena pendekatan taktis yang fleksibel, menggabungkan sepak bola ofensif dengan organisasi pertahanan yang solid. Di Brentford, ia berhasil menciptakan tim yang sulit dikalahkan meskipun dengan sumber daya terbatas. Di Tottenham, ia dihadapkan pada ekspektasi yang jauh lebih besar, termasuk bersaing di papan atas Liga Primer dan mempertahankan prestasi di kompetisi Eropa.
Pendekatannya yang pragmatis, dikombinasikan dengan kemampuan mengembangkan pemain muda, membuat banyak pihak optimistis bahwa Frank bisa membawa Spurs ke level berikutnya.
Namun, tantangan besar menanti. Performa buruk Spurs di musim sebelumnya, khususnya di lini pertahanan yang hanya mencatat satu clean sheet dalam 13 pertandingan terakhir musim 2024/2025, menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Selain itu, tekanan dari penggemar dan manajemen untuk kembali ke zona Liga Champions akan menjadi ujian nyata bagi Frank.
Sumber: Berbagai sumber
Dengan berkomentar, Anda setuju untuk mematuhi aturan ini.